Souvenir Flashdisk - Agar Souvenir Tak Berakhir di Keranjang Sampah

Souvenir Flashdisk - Agar Souvenir Tak Berakhir di Keranjang Sampah

Souvenir hanya berakhir di tempat sampah bila tak ada manfaatnya. Beberapa perusahaan besar mulai enggan berpromosi melalui souvenir karena tujuannya tak tercapai. Lantas, mengapa usaha souvenir milik Rasyid kebanjiran order? Simak cara cerdasnya menyulap souvenir yang juga bisa dimanfaatkan sebagai flashdisk!

Layaknya oleh-oleh atau hadiah, siapa pun pasti pernah mendapat souvenir. Selain saat acara pernikahan, souvenir juga sering diberikan perusahaan atau badan hukum lainnya. Bagi perusahaan, melalui souvenir, promosi otomatis bisa terjadi sebab souvenir bertuliskan nama, logo atau apa saja identitas perusahaan. Namun, karena tak berguna bagi yang menerimanya, kadangkala sebagian orang mengakhiri souvenir itu di tempat sampah.

Hal itu tentunya merugikan perusahaan, sebab tujuan promosi melalui souvenir tak sepenuhnya tercapai. Sementara, untuk mengadakannya telah mengeluarkan sejumlah biaya. Itulah sebabnya, solusi yang ditawarkan Rasyid, seorang pengusaha souvenir berlabel Souvenir Online,  disambut sekian banyak perusahaan besar tanah air. “Saya menawarkan berbagai bentuk souvenir sesuai dengan pesanan, tetapi souvenir itu bisa berfungsi sebagai flashdisk,” ujarnya. Souvenir flashdisk itu, bisa memberikan manfaat seperti umumnya flashdisk sebagai media penyimpan data.

Sebagai seorang yang terbiasa bermain produk souvenir, awalnya Rasyid mengaku tak sedikit pun memiliki keahlian mengutak-atik flashdisk, apalagi untuk menyulapnya menjadi souvenir. Jangankan itu, ia juga sangat ‘gelap’ dengan dunia-nya komputer. Dirinya lalu browsing di internet mencari ide. “Ternyata di luar negeri, terutama di Hongkong sudah ada souvenir berbagai macam bentuk yang bisa berfungsi sebagai flashdisk,” ceritanya tentang awal menemukan menemukan ide souvenir flashdisk.
Kendati telah telah menangkap peluang itu, ia tak mau buru-buru mewujudkan ide tersebut.

memodifikasi flashdisk berbagai merek yang ada di pasaran bukanlah solusi baginya.  Akhirnya jurus cerdiknya keluar. Dengan kemampuan bahasa Inggris seadanya, melalui bantuan google translate, ia berusaha mencari produsen souvenir flashdisk di luar negeri.  “Alhamdulilah, saya menemukan pabrik atau produsen souvenir flashdisk di Hongkong,” katanya. Namun, ia sadar, seperti biasa, souvenir flashdisk haruslah sesuai dengan pesanan pelanggan. Ia tak mungkin mengandalkan katalog yang dimiliki pabrik tersebut.

Bermodalkan aset sebuah laptop dan printer, ia belajar desain. Pesanan pelanggan ia desain sendiri mulai dari bentuk, warna dan sebagainya sesuai dengan keinginan pelanggan. “Desain itu saya kirim ke produsen di Hongkong,” terangnya. Setelah desainnya diterima produsen, sebelum memproduksi secara masal, contoh hasil produksi dikirim kembali kepadanya di Indonesia untuk disetujui.
Menurut Rasyid, pelanggannya harus menunggu selama 17 hari untuk mendapatkan souvenir pesanannya. Tetapi terkadang beberapa pekerjaan finishing ia lakukan di Indonesia, seperti mencetak logo perusahaan, beberapa tulisan hingga kemasan yang diperlukan untuk menempatkan souvenir tersebut. “Tetapi itu sangat jarang, sebab di Indonesia sendiri ongkos cetak masih terlampau mahal,” imbuhnya.

Usaha yang telah dijalankan selama lima tahun dari tempat tinggalnya di Pisangan Baru Jakarta Timur itu, kini menjadi langganan beberapa perusahaan skala besar. Dari perbankan ia menjadi pelanggan setia Bank Indonesia dan Bank Central Asia. Tak terhitung souvenir yang dipesan rutin oleh beberapa BUMN, seperti Pertamina dan berbagai perusahaan besar lainnya dari seluruh Indonesia.

Kendati telah bermunculan banyak pesaing yang bermain flashdisk souvenir, ia masih bisa mendapatkan porsi kue yang besar dari usahanya tersebut. Dalam satu bulan, ia berhasil menjual setidaknya 900 buah souvenir dengan total omset sebesar Rp 104.500.000 “Saya mengambil untung 10 persen dari total penjualan tersebut tersebut,” katanya. Sebab, selain biaya pengiriman, ia juga harus menanggung pajak impor.

Hanya saja, sebelum barangnya tiba di Indonesia, ia harus membayar sekian persen dari total perjanjiannya dengan produsen di Hongkong “Kalau orang pesan 1000 souvenir kan berarti jumlahnya Rp 125 juta, berarti saya harus mengeluarkan uang dp (down payment red.) sebesar 40 persen dari jumlah tersebut,” katanya. Namun, hal itu tidak menjadi masalah baginya sebab semua pelanggannya adalah korporasi.

Souvenir flashdisk milik pria asal Bugis, Makassar ini, kini bertebaran agen dari Sabang sampai Marauke. Dari beberapa daerah bahkan rutin memesannya, sebut saja dari Surabaya, Medan, Kalimantan, hingga dari Indonesia Timur hingga Timur Leste. “Bahkan pemesan dari negara Malaysia juga ada,” katanya. Sebab, harga flashdisknya jauh lebih murah dengan kapasitas memori cukup besar.

Alhasil, meraup untung dari flashdisk bukan hanya milik raksasa komputer dunia, sebab selalu ada peluang yang bisa direguk dari manfaat flashdisk itu sendiri. Prospeknya juga masih terbuka lebar di masa mendatang. Pasalnya, selain flashdisk bermanfaat bagi yang menerimanya, tujuan promosi perusahaan pun tercapai melalui souvenir flashdisk.
Super Al-Mahaz - Madu Pahit yang Berpeluang Bisnis Manis

Super Al-Mahaz - Madu Pahit yang Berpeluang Bisnis Manis

Kandungan alkaloid alias anti infeksi yang teramat tinggi serta antibiotik alaminya, membuat madu pahit dengan cepat membasmi berbagai penyakit kronis dalam tumbuh manusia. Lantaran khasiat tersebut, peluang untung menjadi agen exclusive (AE) di seluruh Indonesia pun sangatlah besar. Berminat?

Apa pun penyakitnya, pasti ada obatnya. Setidaknya ungkapan tersebut mulai terbukti kebenarannya saat Tedi Sutendi yang juga seorang terapist sekaligus pemilik Rumah Bekam di wilayah Cimahi, Bandung mulai memperkenalkan madu pahit (madu yang rasanya pahit red.) lebih dari setahun yang lalu. Pria ini memberikan madu pahit kepada setiap pasiennya yang berpenyakit kronis di kota itu.
Sejak saat itu cerita dari mulut ke mulut tentang khasiat madu pahitnya pun mulai merebak. Apa pasal? Para pengidap penyakit kronis tadi umumnya sembuh total lantaran mengkonsumsi madu pahit yang pernah diberikannya. Mereka sembuh dari penyakit diabetes, asma, kanker, tumor, paru-paru, jantung, stroke, liver, kolesterol, rematik, ginjal dan masih banyak lagi.

Bahkan ketenarannya bukan karena bisa menyembuhkan penyakit kronis saja, tetapi juga manjur untuk tingkatkan stamina tubuh. Lebih dari itu, madu tersebut juga berfungsi meningkatkan imunitas tubuh. “Khasiatnya bahkan lebih bagus dari obat kuat mana pun, terutama untuk suami yang ingin membahagiakan istrinya,” tukas Tedi, begitu ia disapa. Apalagi, mengkonsumsi madu ini tak menimbulkan efek samping selain menyebabkan pemakainya kian sehat.

Alhasil, pemesanan madu pahitnya pun meledak di kotaBandung. Pria kelahiran Garut ini pun tak mau tinggal diam melihat peluang tersebut. Di satu sisi ia ingin membantu membebaskan siapa pun penderita penyakit kronis, di sisi lain secara bisnis madu pahit pasti sangatlah menguntungkan. Ia pun bekerjasama dengan suplier madu di Kalimantan yang kemudian ia kemas sendiri di kota Cimahi dengan merek Madu Pahit Super Al-Mahaz. Madu itu kini tersedia dalam dua kemasan, yakni botol besar 460 gram dan botol kecil 200 gram.

“Alhamdulilah permintaannya terus meningkat. Mulai dari 200 botol, meningkat menjadi 500 botol dan sekarang terus melonjak menjadi 1000 botol,” terang suami dari Iis Holisoh Ruyati ini. Harga per botol dibanderol sebesar Rp200 ribu untuk botol besar dan Rp100 ribu untuk botol kecil. Bisa dibayangkan omset kotornya pun sudah menginjak angka ratusan juta rupiah dalam satu bulan hingga saat ini.

Itu pun, permintaan di kota Bandung sendiri terus meroket, sehingga tak tanggung-tanggung setidaknya 40 dari total 50 agen madu pahitnya sudah menyebar di seluruh penjuru kota tersebut hanya dalam waktu tiga bulan saja. Sementara sisanya telah beroperasi di daerah Ciamis, Cianjur, Majalengka dan Banten. Madu pahit bukan hanya “jago kandang.” Di sejumlah negara di Benua Eropa, Amerika dan Australia juga memburu madu pahit ini. “Jadi sayang kalau peluangnya tidak dimanfaatkan,” katanya.

Untuk itulah ia membuka kesempatan keagenan di seluruh Indonesia. “Untuk stok bahan bakunya saya jamin pasti sangat mencukupi untuk suplai ke seluruh Indonesia, makanya saya berani membuka peluang keagenan ini secara nasional,” tukasnya seraya melanjutkan, pada dasarnya dengan usaha ini selain bisa sehat juga bisa sukses secara keuangan. Besaran investasi untuk menjadi agen exclusive (AE) ia tetapkan sebesar Rp 7.500.000.

“Kami akan memberikan diskon sebesar 30 persen setiap kali pembelanjaan khusus kepada agen,” imbuhnya. Dari total investasi awal tersebut, agen langsung mendapatkan madu pahit 460 gram dan 200 gram masing-masing sebanyak 12 botol. Sementara untuk harga jual, agen dipersilahkan untuk menentukan harganya masing-masing. Kesempatan tersebut dibuka untuk seluruh wilayah Indonesia.
“Agen juga mendapatkan media promosi berupa banner, flyer dan kartu agen,” katanya. Jumlah investasi itu juga sudah termasuk biaya administrasi dan ongkos kirim madu pahit ke tempat di mana pun agen berada. Sementara penjualan madu pahit dipastikan bisa booming di wilayahnya masing-masing, apalagi bila telah merasakan manfaat dari madu tersebut.

“Bagi yang pernah beli satu botol kecil misalnya, satu keluarga minum bareng-bareng, pasti akan memesan lagi beberapa botol besar karena sudah merasakan manfaatnya,” lanjut dia sembari menunjuk beberapa testimoni serupa di kotaBandung. Efek ketagihan yang berujung kian membutuhkan madu itulah yang menjadi peluang yang tak terhentikan dari madu pahit ini.
Namun, antara sesama agen nantinya akan diberikan hak proteksi area per kecamatan. Berbagai keuntungan tambahan pun akan didapatkan agen. Sebut saja paket periklanan lokal mau pun nasional, hak pengembangan bisnis seperti hak jual langsung ke agen dan user, hak promo serta hak pengembangan produk dari produsen. Demikian juga keuntungan lisensi seperti hak jual kembali, perjanjian berlaku seumur hidup serta usahanya bisa diwariskan.
Syarief Hidayat - Kandas Menjadi Pelaut Kini Memiliki Studio Fotografi Termegah di Bekasi

Syarief Hidayat - Kandas Menjadi Pelaut Kini Memiliki Studio Fotografi Termegah di Bekasi

Ingin bekerja di kapal pesiar, A. Syarief Hidayat pun memutuskan kuliah di sebuah akademi maritim. Sayangnya, ia kandas di tengah jalan. Lantas dunia photography yang bukan bidangnya justru mengangkatnya menjadi pengusaha sukses. Kini ia memiliki studio photography termegah di wilayah Bekasi. Seperti apa kisahnya?

Gagal menggapai cita-cita yang telah digantung setinggi langit, tak menutup kemungkinan sukses di bidang lainnya. Adalah A. Syarief Hidayat, seorang pemuda yang lebih dari 30 tahun silam duduk di bangku kuliah sebuah akademi maritim. Saat itu ia kuliah hanya ingin menggapai cita-citanya yang tak lain sebagai seorang pelaut. Ia bermimpi bisa mendapatkan gaji tinggi dengan bekerja di sebuah kapal pesiar bila telah menyelesaikan kuliahnya.

Namun apa daya, kuliahnya tak kelar. Ia kandas meraih cita-citanya. Hari-hari yang sangat berat pun ia lewati saat itu hingga akhirnya pria kelahiran Ciamis ini memutuskan hijrah ke ibu kota Jakarta. “Waktu itu saya bekerja serabutan saja,” ucapnya tentang pekerjaan apa pun yang ia lakukan saat itu yang bisa membuatnya bertahan hidup di Jakarta. Pola pikirnya mulai bergeser dari seorang pelaut yang penuh ketegasan, menjadi seorang pengusaha yang lebih fleksibel menangkap apa peluang yang bisa dijadikan uang.

“Saya menjemput bola menangkap apa pun peluang yang sekiranya mampu saya lakukan saat itu,” imbuhnya. Sejurus berjalannya waktu, di era tahun 1980-an, Syarief mulai berkenalan dengan dunia photography. Dari hasil tabungannya, ia mulai membeli sebuah kamera photographer profesional hingga akhirnya menambah kamera-kamera lainnya seiring tingginya permintaan akan jasa fotonya.
Loyalitasnya dalam mempertahankan kepercayaan siapa pun yang menggunakan jasanya, membuat usahanya terus berkembang pesat. Alhasil, bukan hanya jasa foto, ia mulai merambah ke jasa rental kamera foto, video, plasma, LED dan sebagainya yang berhubungan entertaintment. Ia mengkombinasikan semua jenis layanan jasa tersebut dalam usaha event organizernya.

Kepercayaan akan jasanya, membuat permintaan terus mengalir. Baik secara personal, mau pun klien intansi pemerintah. Bahkan, ia juga pernah menghandel beberapa proyek event organiser di luar Jakarta, seperti Bandung hingga pulau Dewata, Bali. “Saya hanya memiliki satu filosofi, bahwa saat pelanggan membayar harus selalu dengan senyuman, bahwa pekerjaan saya bagus,” ujarnya. Itulah kunci rahasia kelanggengan usahanya.

“Bahkan untuk klien-klien besar saya, hingga saat ini tidak menggunakan MoU, tetapi semuanya berjalan atas dasar kepercayaan saja,” imbuh Syarief melanjutkan, jujur dalam komitmen, dan usaha adalah kunci selanjutnya. Disamping juga, berapa pun besar proyek yang diambil, semuanya tetap dilakukan dengan serius.

Tak heran proyek yang datang silih berganti merangsang niatnya untuk membeli sebuah lahan di Bekasi Timur seluas 600 meter persegi. Uang sejumlah Rp1,2 miliar pun ia habiskan untuk itu. Selanjutnya, ia pun memberdayakan lahan  itu untuk membangun sebuah studio photography megah. Terdiri dari tiga bangunan yang dibangun secara terpisah, tetapi memiliki fungsinya masing-masing.

“Konsep dari bangunan ini bisa sebagai tempat untuk menyelenggarakan berbagai event, seperti launching produk, gathering hingga resepsi pernikahan atau apa pun kegiatannya,” ia melanjutkan tentang manfaat dari studio mewah tadi. Untuk acara pesta misalnya, di tempat tersebut bukan seperti umumnya standing party yang serba taman, tetapi ia merancangnya dengan mengutamakan lighting.

“Itulah salah satu perbedaan kami dengan yang lainnya,” imbuh Syarief. Sementara untuk studio foto, ia melanjutkan, ia merancangnya secara otodidak. Terdapat 15 segmen untuk pengambilan foto atau video klip. Bisa untuk foto pre-wedding dan sebagainya. Alat-alatnya terhitung sangat canggih, yang tak umum dimiliki profesional foto dimana pun.

“Mungkin segmen kami lebih untuk kelas menengah ke atas di sini, tetapi kini kami masih memberikan promo yang menarik,” katanya. Harga jasa fotonya misalnya, bisa berkisar dari Rp 1 juta hingga Rp15 juta. Itu tergantung dari penambahan jasa yang diberikannya dalam sesi pemotretan.
Suwig Gitar - Eksklusif Bergaransi Purna Jual

Suwig Gitar - Eksklusif Bergaransi Purna Jual

Di tengah maraknya berbagai acara musik di berbagai stasiun televisi, tak pelak kebutuhan akan gitar akustik, khususnya, semakin meningkat. Dan, bagi mereka yang akrab dengan dunia gitar, bila berbicara tentang alat musik petik ini, maka yang terlintas dalam benak adalah Hartop. Siapa dia? Mengapa workshop-nya begitu dikenal? 

Generasi pertama membangun, generasi kedua mempertahankan dan mengembangkan, generasi ketiga menghancurkan imperium bisnis yang dibangun generasi pertama. Begitulah bunyi sebuah pepatah Cina kuno tentang siklus bisnis. Tapi, di zaman moderen seperti saat ini, pepatah itu betul-betul telah menjadi pepatah kuno. Sebab, pada umumnya, justru generasi ketigalah yang membuat bisnis generasi pertama semakin berkembang. Hal ini terjadi, karena adanya dimensi yang berbeda, sehingga mereka lebih kritis. Di samping itu, adanya penyebaran informasi yang sangat cepat, gampang diperoleh, dan terbuka luas. Dan, Suharto Suwignyo telah membuktikannya.

Hartop, begitu ia akrab disapa, meneruskan usaha sang kakek, Hardjo Suwignyo, yang dibangun sekitar tahun 1930-an di Solo. “Usaha pembuatan alat musik petik dan gesek ini dijalankan secara turun temurun dari kakek saya. Lalu, diteruskan oleh Bapak saya, Maryanto Suwignyo, pada sekitar tahun 1960-an di mana lokasi usahanya sudah dipindahkan ke Jakarta. Selanjutnya, dari bantu-bantu saja akhirnya Bapak menyerahkan usaha ini ke saya sekitar tahun 1999−2000,” kisah Hartop.

Pada mulanya, ia melanjutkan, usaha ini hanya membuat alat musik petik dan gitar untuk melayani pasar di Indonesia dan Malaysia. Saat tongkat kepemilikan dipindahkan ke Maryanto, tidak terjadi perubahan yang signifikan. Kecuali, adanya manajemen dan gitar, khususnya, dibuat untuk memenuhi permintaan berbagai toko alat-alat musik. Ketika pada akhirnya Hartop yang memegang kendali atas usaha ini, ia segera melakukan perubahan paradigma bagaimana caranya agar usaha ini dikenal banyak orang. Mengingat, begitu banyak orang yang datang ke bengkel ini sekadar untuk diperbaiki gitarnya.

“Dari situlah, terlintas dalam benak saya untuk membuka fasilitas servis gitar. Selain itu, dari berkenalan dengan orang-orang itu, bermunculanlah berbagai macam ide, di antaranya membuat gitar sesuai dengan yang diinginkan konsumen (custom) di mana waktu itu (tahun 2000-an) belum ada usaha sejenis yang melakukan hal ini. Apa yang saya lakukan ini tidak saya iklan atau promosikan, tapi menyebar dari mulut ke mulut hingga akhirnya berkembang seperti saat ini,” tutur Hartop, yang menamai usahanya Suwig Guitar Custom atau Suwig Guitar Workshop.

Di samping itu, dengan alasan agar lebih spesifik, Hartop menambahi produknya yang semula gitar elektrik, sejak tahun 2008, juga membuat gitar akustik. “Hal ini, juga saya lakukan karena saat itu mereka yang bergerak dalam pembuatan gitar akustik masih dalam hitungan jari. Saya ingin, ketika orang-orang berbicara tentang gitar akustik, maka mereka akan menyebut Suwig,” ungkap Hartop, yang memberi merek Suwig pada gitar akustik buatannya. Sebagian dari impian itu terwujud pada tahun 2010 dan 2011, kala Suwig diikutsertakan dalam pameran gitar akustik di Singapura. “Setidaknya, gitar akustik kami sudah mulai dikenal di luar negeri,” imbuhnya.

Keunggulannya dari para pesaing? Tentu itu pertanyaan yang muncul. Ternyata, Hartop tidak mengetahuinya dengan pasti. Karena, hanya fokus pada produknya dengan mengutamakan kualitas. “Dengan fokus pada produk sendiri dan terus meningkatkan kualitas, dengan sendirinya kami telah menciptakan poin (baca: kelebihan, red.). Buktinya, dari tahun ke tahun permintaan/pemesanan selalu ada. Sebaliknya, jika terus-menerus memikirkan pesaing, akhirnya capek sendiri,” ujar sarjana teknik mesin dari Universitas Mpu Tantular, Jakarta, ini.

Suwig Guitar Custom dalam membuat gitar akustik menggunakan sistem customized atau pemesanan. Tapi, kendati bersifat pemesanan, hal ini sudah membuat usaha yang berlokasi di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, ini cukup kewalahan. Sebab, untuk membuat sebuah gitar akustik dibutuhkan waktu tiga minggu, sementara setiap bulannya, usaha ini rata-rata menerima dua pemesanan. Bahkan, satu kali dalam perjalanan hidup usaha ini pernah menerima pemesanan 24 gitar dalam satu bulan!

Dalam berproduksi, Suwig Guitar Workshop menggunakan kayu yang berbeda-beda untuk setiap gitar. Karena, berbeda kayunya, berbeda pula sound yang dihasilkan. Sementara sebagian besar kayu yang digunakan merupakan kayu impor. “Hal ini tidak ada hubungannya dengan kualitas kayu di Indonesia, apalagi Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan kayu, tapi semata-mata karena gitar merupakan alat musik yang dikembangkan oleh Eropa. Sehingga, lebih afdol menggunakan kayu impor dan suara yang dihasilkan sudah diterima oleh semua kalangan,” jelas kelahiran Solo, 21 Maret 1975 ini.

Namun, tidak berarti Suwig Guitar Custom tidak menggunakan kayu lokal. Gitar-gitar yang dibuat di sini memadukan antara kayu impor dengan kayu lokal. Misalnya, bagian belakang dan samping body, serta neck gitar menggunakan kayu lokal, sementara bagian depannya (top body) menggunakan kayu impor seperti spruce atau cedar. Untuk itu, khusus gitar akustik, Suwig Guitar Custom mematok harga mulai dari Rp4,5 juta. Sedangkan untuk servis yang mencakup neck yang patah, mengganti papan body, cat ulang, setting ulang, dan sebagainya dibebankan tarif mulai dari Rp95 ribu. Selain itu, Suwig Guitar Custom juga menyediakan pelayanan purna jual berupa garansi selama tiga tahun. Untuk semua kerja keras ini, Suwig Guitar Custom membukukan omset rata-rata Rp25 juta−Rp50 juta per bulan.

Tapi, Hartop belum puas sampai di situ. Ia ingin melanjutkan usaha turun-temurun ini hingga menjadi besar, dalam arti, produknya dipakai lebih banyak orang. Lalu, membuka kursus pelatihan gitar dan membuka gerai. “Suatu saat nanti, saya juga ingin usaha ini dijalankan dengan mesin tanpa meninggalkan core-nya. Sehingga, ada gitar yang diproduksi secara masal dan ada yang eksklusif,” ucapnya.

Apalagi, ia menambahkan, prospek usaha ini sangat bagus jika dikaitkan dengan kondisi saat ini di mana acara-acara musik membanjiri berbagai stasiun televisi. Sementara, gitar dan bas merupakan dua alat musik yang paling mendominasi dalam dunia musik. Dengan kata lain, usaha semacam ini tidak akan pernah mati. “Di sisi lain, kami belum mampu memenuhi pasar gitar di Jakarta sekali pun dan mampu bersaing dengan gitar buatan luar negeri,” pungkasnya. Hal itu, telah dibuktikannya dari adanya pemesanan gitar buatannya dari seluruh Indonesia, Australia, Kanada, Singapura, Malaysia, Amerika Serikat, Inggris, Skotlandia, dan Swedia.
Tedi Sutendi - Karena Madu Pahit Tuntas Semua Jenis Penyakit

Tedi Sutendi - Karena Madu Pahit Tuntas Semua Jenis Penyakit

Jangankan merasakan madu pahit, mendengar nama madu pahit saja masih terasa asing di telinga. Itulah yang membuat Tedi Sutendi harus membuktikan khasiat madu pahitnya dengan memberikannya secara gratis kepada setiap pasien yang datang ke klinik bekamnya selama satu tahun. Buah bibir dari kedasyatan khasiatnya pun terus menggelinding. Seperti apa?

Siapa pun sepakat bahwa rasa madu pastilah manis. Seperti itulah rasa madu yang telah dikenal sejak jaman kerajaan di berbagai belahan dunia. Cairan kental manis itu dikenal bukan hanya sebagai resep rahasia awet muda, tetapi juga bagus untuk menjaga kondisi tubuh agar aman dari serangan berbagai jenis penyakit. Di dalam madu terdapat kandungan multi nutrisi lengkap yang dibutuhkan manusia.

Konon, lantaran rasa madu yang sudah terlanjur dikenal manis itu, membuat para pemburu madu hutan di Kalimantan tak lebih menganggapnya sebagai sampah yang harus dibuang bila menemukannya. Lantas, mendengar rasa madu yang pahit itulah,  Tedi Sutendi kian penasaran. Pemilik klinik bekam di kota Cimahi, Bandung itu lalu mencari berbagai sumber informasi tentang madu tersebut.

Otak kanan Tedi bekerja. Sesuatu yang tak umum pastilah mengandung sesuatu yang spesial. “Setelah saya cari berbagai informasi tentang perlebahan, akhirnya mendapatkan jawaban bahwa madu pahit mengandung alkaloid yang bisa berfungsi sebagai anti infeksi yang tinggi serta memiliki antibiotik alami yang bagus,” ujarnya pria kelahiran Garut ini. Madu pahit kata dia, berfungsi sebagai detoksifikasi, pencegahan dan penyembuhan.

“Awalnya untuk mendapatkan madu pahit memang cukup susah sebab pawang madu di Kalimantan tak menjualnya. Mereka menganggapnya sebagai madu basi atau beracun sebab belum tahu khasiatnya,” imbuh Tedi, begitu sapaan akrabnya. Madu pahit di hutan Kalimantan, lanjut dia, menghisap nektar dari ribuan jenis pohon di dalam hutan wilayah itu. Berbeda dengan madu pahit lainnya yang hanya menghisap nektar dari satu jenis pohon saja, semisal pohon mahoni dan sebagainya.
Tedi akhirnya bekerjasama dengan mitranya di Kalimantan untuk suplai madu pahit yang akhirnya ia kemas lagi di Cimahi, dengan nama Madu Pahit Super al Mahaz. Namun karena masih baru, mengawali usaha tersebut tidaklah mudah. “Sebab di mana-mana madu itu rasanya manis, gak ada madu pahit,” imbuhnya. Tetapi dari segi bisnis ia melihat, belum ada orang yang bermain madu pahit dengan serius. Apalagi, semua orang rata-rata tidak suka dengan rasa pahit.

Satu-satunya cara memperkenalkan madu pahit adalah semua orang harus tahu bukti khasiatnya secara langsung. “Makanya selama hampir satu tahun di klinik saya, setiap pasien saya berikan gratis madu pahit,” ujarnya seraya melanjutkan, untuk penyakit seperti batuk dan flu dalam hitungan detik langsung tuntas alias sembuh total.

Dalam perkembangannya ia juga bertemu dengan pasien-pasiennya yang berpenyakit kronis. “Beberapa orang yang berpenyakit diabetes, hanya dengan mengkonsumsi satu botol madu pahit langsung normal atau sembuh,” imbuhnya tentang salah satu testimoni pasiennya yang kemudian membuatnya kian bersemangat untuk memperkenalkan madu pahit.

Selanjutnya, testimoni demi testimoni bukan hanya membuatnya terperangah, tetapi juga membuat para penderita berbagai penyakit kronis tak percaya bila dirinya bisa sembuh. “Bayangkan saja, seorang bapak yang sudah pasrah lantaran penyakit jantungnya, saat minum satu sendok madu pahit saja langsung merasa mendingan hingga akhirnya dia terus mengkonsumsi sampai sembuh total,” ceritanya bangga. Satu keluarga yang menderita penyakit asma juga demikian senangnya saat penyakitnya sembuh total setelah rutin minum madu pahitnya.

Bukan hanya penyakit kronis seperti kanker, liver, asma, asam urat, rematik dan sebagainya yang bisa disembuhkan. “Seorang ibu usia di atas kepala empat tak mempunyai anak, tiba-tiba sms bahwa karena minum madu pahit secara rutin kini dia sudah positif hami,” ceritanya. Bahkan, madu itu juga bisa membuat seorang ibu yang tadinya sudah monopause bisa kembali subur.

Lantaran berbagai testimoni itu, madu pahitnya pun menjadi buah bibir. Siapa pun yang telah sembuh pasti dengan gembira mengabarkan kepada orang-orang yang dikenalnya. Alhasil, kabar tentang khasiat madu pahit yang dahsyat membuat sejumlah orang dengan kesadaran sendiri ingin mencobanya. “Akhirnya saat ini permintaannya bukan hanya di Cimahi, Bandung tetapi juga sudah merambah ke berbagai daerah, termasuk daerah-daerah di luar Jawa,” imbuhnya.

Agar madu pahit ini bisa menasional, ia pun membuka kesempatan keagenan usaha madu pahitnya. Investasi keagenan terdiri dari tiga paket. Pertama  adalah member atau anggota dengan investasi awal sebesar Rp 350 ribu. Kedua,  sebagai agen dengan investasi Rp 2,5 juta serta ketiga, agen eksklusif dengan investasi sebesar Rp 7,5 juta.

Besarnya potensi usaha tersebut, membuatnya berhasil mengantongi keuntungan yang cukup signifikan. “Saat ini pemesanan sudah berkisar di atas angka ribuan botol dalam satu bulan,” ujarnya. Madu pahit dibagi dalam dua botol, yakni madu pahit botol besar 460 gram seharga Rp250 ribu dan madu pahit botol kecil 200 gram seharga Rp125 ribu.

“Agen atau member bahkan bisa menjual di atas harga tersebut, tergantung lokasinya masing-masing,” katanya. Alhasil, bukan hanya kesehatan yang bisa dirasakan dari madu pahit, tetapi juga keuntungan yang terasa manis. Apalagi, setiap orang yang rata-rata sudah merasakan kedahsyatan khasiat madu pahit pasti akan terus membeli untuk dikonsumsi secara rutin.
Telur Ukir - Mengukir Uang Saat Waktu Luang

Telur Ukir - Mengukir Uang Saat Waktu Luang

Ternyata kulit telur angsa yang sangat tipis dan rentan pecah mampu disulap menjadi kerajinan telur ukir unik nan cantik. Di tangan seorang Andi Wibisono hasil kerajinan yang menakjubkan ini dibanderol dengan harga tinggi

Sepertinya wajar saja jika sebuah karya seni bisa dihargai hingga tujuh digit angka bahkan lebih. Pasalnya barang seni memang dikerjakan dengan penuh dedikasi pembuatnya hingga menyita waktu yang tak sedikit. Belum lagi nilai estetika yang muncul dari sebuah karya seni tersebut lantaran tidak dihasilkan dari sembarang orang. Butuh bakat dan jiwa seni yang tinggi untuk menciptakannya. Maka tak usah heran jika sebuah telur angsa yang biasa dijumpai di pasar-pasar tradisional ketika sudah diukir oleh tangan-tangan terampil akan bernilai jutaan rupiah.

Telur ukir tersebut diciptakan oleh seorang pensiunan perusahaan swasta yang bergerak di bidang jasa konstruksi, Andi Wibisono. Ia tertarik menekuni kerajinan telur ukir lantaran pasca pensiun dirinya membutuhkan kegiatan pengisi waktu luang. “Setelah pensiun saya berpikir kira-kira kegiatan apa yang bisa saya lakukan dan juga menghasilkan. Sepertinya kerajinan telur ukir ini cocok bagi saya meski awalnya mesti bersusah payah belajar teknik mengukir telur”, kenang Andi.

Andi menguasai teknik mengukir telur secara otodidak tanpa bantuan orang lain. Ia seorang yang memiliki bakat seni, jadi tidak heran dirinya mampu menciptakan hasil karya dalam kurun waktu yang terbilang singkat. Singkat cerita, sepanjang tahun 2008 meski dalam tahap belajar setidaknya ia sudah menghasilkan 30 karya telur ukir yang bernilai jutaan rupiah.

Telur-telur tersebut ia lepas ke pasaran saat ia mengikuti pameran kerajinan berskala nasional. Tak disangka peminatnya cukup banyak dan Andi pun dengan percaya diri memasarkannya lewat media internet. Namun Andi juga belum berniat memasarkan kerajinan telur ukirnya lewat galeri-galeri. “Saat ini saya hanya memasarkan kecil-kecilan saja sebab saya belum berani untuk jual titip di galeri-galeri. Pasalnya dengan harga yang demikian mahal otomatis saya harus menyasar galeri kerajinan yang segmen pasarnya menengah keatas. Namun kendalanya fee yang ditetapkan dari galeri juga mahal, yang berimbas pada harga jual telur nanti”, terang pria kelahiran 21 Februari 1952 ini.

Andi menilai meski telur ukir ini adalah barang seni dimana kolektornya akan mengeluarkan biaya berapapun namun ia tidak ingin pembelinya mendapatkan harga yang kurang sesuai. Karena itu ia hanya memajang seluruh hasil karyanya di kediamannya yang terletak di kawasan pasar minggu.
Ia mengaku cukup beruntung memulai bisnis telur ukir ketika belum banyak orang yang menekuninya. Tak mengherankan jika ia kemudian menyandang predikat sebagai pionir seniman telur angsa ukir. Memang hingga saat ini hanya Andi seorang yang terbilang mahir dengan teknik mengukir telur. Ia tak menampik ketika banyak orang yang akhirnya ikut menyenangi dan mempelajari teknik mengukir telur. Dikatakannya meski proses pembuatannya sangat sulit Andi percaya jika dilakukan dengan tekun semua orang pasti bisa.

Namun satu hal yang ia tegaskan untuk mempelajarinya memang dibutuhkan bakat tersendiri jika tidak akan memakan banyak waktu hingga bisa mahir. “Untuk membuat telur ukir sangat menyita waktu. Maka jika serius menekuni usaha ini tidak bisa dilakukan sebagai bisnis sampingan. Jadi hanya orang-orang punya banyak waktu luang saja yang bisa menjalankannya”, papar Andi.
Memang benar untuk membuat satu buah telur ukir cantik tidak tercipta dalam waktu sekejap. Andi membutuhkan konsentrasi, ide dan mood yang muncul bersamaan saat membuat telur ukir. “Sulit dipastikan satu butir telur selesai berapa jam atau hari sebab ketika saya jenuh dengan satu motif saya akan pindah sejenak mengerjakan motif lain begitu seterusnya hingga semua motif selesai diukir”, jelas alumnus Fakultas Arsitektur Landskap Trisakti.

Prosesnya pun tidak sesederhana yang dibayangkan. Telur yang siap ukir ternyata telah menjalani proses pengeluaran isi telur. Mulanya Andi mengosongkan isi telur lewat lubang kecil di bawah telur dengan diameter kurang lebih 2 mm. Dengan bantuan kompresor cairan telur yang kental perlahan-lahan keluar. Setelah itu Andi mesti membersihkan lapisan tipis di bagian dalam telur yang biasanya membuat telur mengeluarkan aroma amis. Baru ia memoleskan cat dinding di bagian dalam telur agar telur sedikit lebih kuat dan tidak mudah pecah saat diukir. Telur pun siap diukir setelah Andi menggambarkan pola di permukaannya.

Tahap terakhir setelah diukir dengan bantuan alat bor bermata mini telur akan diamplas agar lebih mengkilap. Hasilnya telur angsa yang ia beli dengan harga Rp25 ribu perbutir setelah terukir desain menarik harga jualnya menjadi 20 kali lipat lebih yakni sekitar Rp500 ribu sampai Rp1,5 juta. Harga tersebut bisa lebih tinggi lagi ketika Andi menjualnya keluar negeri.

Untuk desain Andi mengakui masih mencontek motif-motif batik yang memang banyak disukai turis-turis asal Jepang dan pembeli dari Australia. Namun tak sedikit motif yang ia ciptakan sendiri seperti huruf Arab, gambar kepala hewan, atau bahkan sketsa wajah tokoh terkenal yang sedang giatnya ia kerjakan. “Awalnya saya membuat sketsa wajah Obama dan ternyata laku. Kemudian saya mencoba membuat sketsa wajah presiden Indonesia dari awal hingga sekarang. Kedepannya saya akan membuat sketsa wajah tokoh dunia untuk dijual di pasar internasional”,ujar Andi.
Khusus motif sketsa wajah, proses pengerjaannya tidak terlampau lama. Setelah pola sudah tergambar di permukaan telur, maka hanya membutuhkan waktu kurang lebih tiga jam untuk pengukirannya. Selanjutnya tinggal proses finishing, telur ukir pun akan terlihat lebih apik setelah dikemas dengan bingkai kaca.
Ternak Ayam Kampung: Omsetnya Sama Sekali Tidak Kampungan

Ternak Ayam Kampung: Omsetnya Sama Sekali Tidak Kampungan

Berbicara tentang ternak ayam kampung cenderung mengacu kepada ayam umbaran. Padahal, ayam yang satu ini juga dapat diternakkan laiknya broiler. Bahkan, dengan perawatan yang benar dan bagus, ayam kampung akan menghasilkan pemasukan yang sangat menakjubkan. Nah, bagaimana itu caranya?

 Menurut Anda, mana yang lebih lezat rasanya: ayam ras atau ayam bukan ras (buras)? Jika Anda mengatakan bahwa ayam buras lebih lezat ketimbang ayam ras, jawaban Anda sudah betul. Tapi, benarkah ayam yang selama ini Anda konsumsi merupakan ayam buras atau yang lebih dikenal dengan istilah ayam kampung?

Pertanyaan ini mengacu pada fakta bahwa ayam konsumsi terbagi menjadi ayam ras dan ayam buras. Sementara ayam ras itu sendiri terbagi menjadi ayam pedaging (broiler) dan ayam petelur (layer). Dalam dunia ayam pedaging, baik jantan maupun betina, dimanfaatkan dagingnya. Sedangkan dalam dunia ayam petelur, karena yang dimanfaatkan hanya telurnya, maka yang berperan tentu saja ayam petelur betina. Dengan demikian, kehadiran ayam petelur jantan tidak diinginkan.

“Di luar negeri, ayam petelur jantan akan dipotong, lalu dagingnya digiling, dan selanjutnya digunakan sebagai makanan ayam karena kandungan proteinnya tinggi. Jadi, ibaratnya ayam makan ayam. Di Indonesia, segelintir peternak ayam yang nakal, memotongnya seperti ayam kampung (karkas yang menyertakan kepala, leher, dan ceker, red.) dan menjualnya dengan harga ayam kampung,” jelas Christopher Emille Jayanata.

Kehadiran ayam kampung abal-abal ini, Emille menambahkan, tentu saja merugikan konsumen. Sebab, harganya lebih mahal ketimbang broiler, belum tentu sehat, dan rasanya tidak enak. “Untuk membedakannya, lihatlah kakinya di mana ayam kampung asli memiliki kaki yang jenjang dan paha yang montok. Sedangkan ayam kampung abal-abal memiliki kaki yang butek (pendek bulat). Tapi, perbedaan ini akan sulit dilihat kalau konsumen tidak terbiasa mengamati mana ayam kampung dan mana broiler. Apalagi, jika sudah dalam kondisi dipotong,” ujar Direktur Utama PT Pronic Indonesia ini.

Kenakalan yang dilakukan segelintir peternak tersebut, di samping memanfaatkan kehadiran layer jantan yang tercampakkan, juga karena sejak beberapa tahun lalu permintaan akan ayam kampung semakin lama semakin banyak. Mengapa? Dan, apa itu ayam kampung? Tentu, itu pertanyaan yang selanjutnya muncul.

Seperti telah dinyatakan di atas bahwa selain ayam ras, juga ada ayam buras. Dalam dunia ayam buras, ayam kampung atau yang sering juga disebut ayam lokal hanyalah salah satu bagiannya. Tapi, sebenarnya, ayam lokal berbeda dengan ayam kampung di mana ayam lokal cenderung mengacu kepada ayam suatu daerah di Indonesia, seperti Ayam Cemani, Ayam Pelung, dan sebagainya. Sementara ayam kampung merupakan ayam-ayam lokal yang telah mengalami domestikasi. Berkaitan dengan itu, dilihat dari spec performance-nya, ayam kampung mempunyai corak dan warna bulu yang lebih beragam, dengan kaki jenjang dan tubuh langsing bak pragawati.

Ayam kampung dapat dipelihara baik secara ekstensif maupun intensif. Dalam cara pemeliharaan secara ekstensif, ayam kampung tersebut mulai dari DOC (Day Old Chicken) sudah dilepaskan begitu saja, sehingga mereka pun mencari makan dan beranakpinak sendiri. Imbasnya, kesehatan dan pertumbuhan mereka tidak terkontrol, tapi juga tidak ada biaya produksi yang harus dikeluarkan. Masyarakat menyebut cara ini dengan umbaran. Dalam perjalanannya, jika berbicara tentang ayam kampung, maka yang terlintas dalam benak adalah ayam umbaran.

Padahal, ayam kampung juga dapat dipelihara secara intesif/dikandangkan seperti ayam ras. Untuk itu, gunakanlah bibit dari breeding yang tepercaya atau telah melalui suatu riset. Sehingga, secara genetik, sudah cukup teruji dan hasilnya pun terjamin. Feeding juga harus dikontrol, termasuk pemberian vitamin, obat-obatan, dan protein dengan harapan nantinya performance-nya tumbuh dengan cepat.

Adapun bibit yang dimaksud berkorelasi positif dengan berat telur (40 gr−50 gr) atau berat DOC (30 gr−35 gr). “Untuk bibit berupa telur, sebelum dimasukkan ke dalam mesin tetas, beratnya dikontrol lagi agar nantinya dihasilkan DOC dengan berat seragam. Dari DOC dengan berat seragam itu, diharapkan, pertumbuhan mereka akan seragam pula,” ungkap Bambang Krista, peternak ayam kampung di kawasan Cileungsi. Sekadar informasi, digunakannya mesin tetas hanya demi efisiensi bisnis.

Telur ayam kampung, tentu saja dihasilkan oleh ayam kampung betina di mana secara alamiah ia sudah mampu bertelur untuk pertama kalinya pada umur 18 minggu atau 4,5 bulan. Tapi, ia belum dapat dijadikan indukan jika diternakkan. Karena, belum dewasa kelamin. Ayam kampung betina matang kelamin/matang kawin pada umur enam bulan, sedangkan ayam kampung jantan pada umur delapan bulan. Di sisi lain, telur-telur yang dihasilkan oleh ayam kampung betina yang belum dewasa kelamin juga terlalu kecil ukuran dan bobotnya. Sehingga, bila nekad ditetaskan, pertumbuhannya akan lambat.

Ayam kampung betina akan terus bertelur hingga berumur 85−90 minggu dan setelah tidak produktif lagi, ia akan beralih fungsi menjadi ayam konsumsi. Sementara si jantan akan menjadi pejantan sampai berumur tiga tahun dan sesudahnya juga akan berakhir di meja makan.
“Dalam sebuah usaha peternakan, yang dibutuhkan dari ayam jantan hanyalah spermanya. Untuk memperoleh sperma yang bagus, maka harus mempunyai ayam jantan yang bagus. Jadi, jangan heran jika di peternakan kami, para pejantan tersebut seminggu sekali mengonsumsi telur, madu, dan toge, serta minum suplemen untuk pria dewasa. Pertimbangan kami, sebagai sesama makhluk hidup, agar menjadi pejantan tangguh maka kita harus menjaga stamina dan kesehatan,” kata Bambang, yang yang menamai peternakannya Citra Lestari Farm.

Dan, layaknya perkawinan dalam dunia binatang, ayam kampung jantan juga berpoligami di mana idealnya satu ayam kampung jantan mengawini 5−8 ayam kampung betina. “Tapi, di peternakan kami, satu ayam kampung jantan ‘mengawini’ 40 ayam kampung betina. Mengapa bisa begitu? Karena, kami tidak menggunakan perkawinan alamiah, tapi kawin suntik. Sehingga, lebih efisien baik dalam pemakaian lahan maupun jumlah pejantan. Di sisi lain, hal ini kami lakukan sebab ayam tidak asal kawin, di antara mereka harus ada saling ketertarikan. Dengan demikan, jika perkawinan alamiah yang digunakan, maka tingkat keberhasilannya akan kalah dengan kawin suntik,” kata insinyur peternakan dari Universitas Diponegoro, Semarang, ini.

Dari usaha yang dibangunnya tahun 2008 dengan luas lahan 3 ha di mana 40%-nya digunakan untuk peternakan ini, setiap minggunya Bambang memanen dan memasarkan 40 ribu ekor DOC yang dijual dengan harga Rp5.500,-/ekor ke seluruh Indonesia dan 3−4 ribu butir telur yang disetorkannya ke berbagai supermarket dengan harga Rp1.200,- sampai Rp1.500,- per butir. Selain itu, usaha yang dibangun dengan modal Rp15 juta ini, juga memasok seribu ayam yang sudah dipotong per hari ke berbagai rumah makan ayam goreng ternama di seluruh JABODETABEK. Karkas ayam ini dijualnya dengan harga Rp25 ribu−Rp30 ribu per ekor. “Kami berencana suatu saat nanti bisa menjual karkas ini ke Malaysia atau Singapura,” ucap kelahiran Solo, 5 Oktober 1963 ini.

Namun, Bambang yang setiap bulannya membukukan omset hampir Rp2 milyar ini, tidak ingin menikmati keberhasilan usahanya sendirian. Ia menyediakan pelatihan bagi mereka yang ingin beternak ayam kampung, tetapi belum memiliki gambaran sama sekali. Untuk itu, peserta cukup menyetor Rp850 ribu untuk pelatihan selama dua hari. “Bagi mereka yang ingin beternak ayam kampung, saya sarankan untuk memulainya dari ayam pedaging. Karena, modal yang ditanamkan bisa dilakukan secara bertahap. Sebagai kalkulasi, untuk mencetak ayam kampung dari DOC hingga siap panen cuma dibutuhkan modal Rp20 ribu/ekor!” pungkasnya. Komoditinya memang ayam kampung, tapi hasilnya tidak kampungan, bukan?