Wida Septarina Resign Jual Mobil Pribadi Modali Usaha

Jenuh dengan rutinitasnya sebagai manajer di sebuah perusahaan besar, Wida Septarina memutuskan menjadi pengusaha. Tak peduli meninggalkan gaji dan fasilitas nan wah, ia juga nekat menjual mobil pribadinya sebagai modal usaha. Sukseskah Wida?

Karir yang hampir mencapai puncak di usia muda, tidaklah gampang untuk diraih. Wida Septarina justru sebaliknya. Kemampuannya dalam bidang public relations (PR) yang mumpuni, membuatnya jadi rebutan beberapa perusahaan yang bergerak di bidang tersebut. Terakhir ia menjabat sebagai manajer PR sebuah perusahaan perkebunan ternama. Posisi manajer dengan gaji di atas dua puluhan juta rupiah, ia peroleh saat dirinya masih berstatus lajang.

Dengan gampangnya Wida – sapaan akrabnya, membeli rumah, mobil dan apa pun yang ingin ia miliki. Sebagai leader, ia tak sendiri menyelesaikan pekerjaan. Kemampuannya pun terus diasah. Perusahaan mengirimnya mengikuti berbagai pelatihan di luar negeri. Sebagai seorang wanita karir, umumnya orang menganggap dirinya sudah sangat aman dengan posisi tersebut.

Bahkan, penghasilan seperti itu masih lebih dari cukup bila kemudian ia berkeluarga. Namun semua pencapaian yang wah menurut orang kebanyakan itu, berujung dengan keputusan gilanya untuk menjadi pengusaha. Tak sedikit yang menyayangkan keputusannya itu, terutama orang-orang terdekatnya. “Sudah enak-enak dengan pekerjaan ini, ngapain saya harus keluar,” imbuhnya tentang tanggapan atas keputusannya itu.

Titik balik dari hasrat menjadi pengusahanya tak lazim bagi karyawan lainnya untuk posisi seenak dirinya. “Kerja ikut orang rasanya gak nyaman dan gak merdeka,” kisahnya. Tekadnya sudah bulat, tak bisa diganggu lagi oleh siapa pun. Maka, sesuatu yang baru seperti yang diinginkannya pun dimulai.
Mengawali sebuah usaha tentu butuh modal. Tabungannya ia pakai untuk mengoperasikan usahanya dari rumah dengan satu orang karyawan. “Kalau sudah punya keahlian, cuma dua pilihannya, ikut orang atau membuat usaha sendiri,” Wida berargumen. Keahliannya dalam bidang PR, membuatnya mendirikan usaha dalam bidang PR juga, dengan label Lotus Marketing & Public Relations.

Kendati ia masih memiliki aset jaringan klien di perusahaan tempatnya bekerja dahulu, untuk mendanai operasional kegiatan yang lebih besar ia mulai berbenturan dengan kekurangan modal. “Apalagi, bagaimana orang bisa percaya bila belum memiliki kantor,” terangnya. Satu-satunya mobil kesayangannya pun dijual. Itu juga tak berarti di hari berikutnya usaha itu mulai mengalirkan laba.
Bila selama menjadi manajer selalu tidur lelap di malam hari, kini berbalik 180 derajat. “Setiap malam saya tidak bisa tidur memikirkan gimana besok,” katanya. Zona nyamannya mulai terenggut. Gaji besar yang mengalir ke kantongnya setiap bulan kini berganti kekhawatiran pemasukan usahanya. Segala kebebasan, kemudahan yang pernah dirasakannya, kini berganti cucuran keringat naik turun taksi melobi klien-klien yang merupakan sumber pemasukan usahanya nanti.

Bahkan usahanya pernah sama sekali tak punya pemasukan. Biaya operasional pun terus membocori tabungannya. Sementara yang paling utama karyawan harus mendapat gaji. “Saya juga pernah menggadaikan sertifikat rumah saya untuk membiayai suatu kegiatan klien,” imbuhnya. Sebagai manusia,  Wida kadang hampir rapuh menghadapi beratnya tantangan menjadi pengusaha.
Pernah terlintas dalam pikirannya untuk kembali melamar menjadi karyawan lagi. Setelah Lotus berjalan beberapa lama, sebuah tawaran menarik menjadi Communication Director dari sebuah perusahaan ternama sempat menggoyahkannya. Gajinya pun tak tanggung-tanggung. “Ya kalau dibandingkan dengan gaji anggota DPR, gaji yang ditawarkan perusahaan itu masih jauh lebih tinggi,” katanya sambil terbahak. Tetapi ia bergeming. Wida yang tahan banting dan tak pernah menyerah akhirnya mulai menorehkan sukses.

Ia berpendapat, pekerjaan PR bukan merupakan persoalan kemampuan otak. Selain itu, kejujuran juga adalah hal utama yang membuat kliennya percaya. “Yang paling penting lagi adalah jaringan,” katanya. Network yang telah dibangunnya sejak bekerja, yang bahkan terus dipeliharanya, membuat dirinya gampang berkembang. Dari rumah, beralih menyewa sebuah petak ruang kantor, kini dirinya memiliki kantor yang luas bilangan Radio Dalam, Jakarta Selatan.

Kini Lotus yang diawal hanya memiliki satu orang karyawan, menggurita menjadi sepuluh orang karyawan. Mereka bahkan dari universitas terkemuka di Indonesia. Beberapa senior dari PR perusahaan lainnya, juga bergabung dengan Lotus. Klien-kliennya kini adalah perusahaan-perusahaan raksasa. Belum lagi usaha laundry yang kini memiliki empat cabang, yang merupakan misi sosial Wida untuk memberdayakan masyarakat.

Jauh dari penghasilan sebagai manajer, Wida bisa mengantongi total pendapatan hingga sepuluh digit per tahun. Ia juga bisa membeli beberapa mobil, bahkan lebih mewah dari mobil yang pernah dijualnya dahulu. Ia pun bisa menempati rumah yang lebih luas lagi. “Waktu saya tak terbatas”. Tak seperti karyawan yang terikat waktu, setiap hari ia masih bisa mengantarkan anaknya sekolah bahkan mengikuti les. Siapa pun yang menganggap keputusan Wida gila, kini boleh mengancungi jempol.
Blogger
Disqus