Telur Ukir - Mengukir Uang Saat Waktu Luang

Ternyata kulit telur angsa yang sangat tipis dan rentan pecah mampu disulap menjadi kerajinan telur ukir unik nan cantik. Di tangan seorang Andi Wibisono hasil kerajinan yang menakjubkan ini dibanderol dengan harga tinggi

Sepertinya wajar saja jika sebuah karya seni bisa dihargai hingga tujuh digit angka bahkan lebih. Pasalnya barang seni memang dikerjakan dengan penuh dedikasi pembuatnya hingga menyita waktu yang tak sedikit. Belum lagi nilai estetika yang muncul dari sebuah karya seni tersebut lantaran tidak dihasilkan dari sembarang orang. Butuh bakat dan jiwa seni yang tinggi untuk menciptakannya. Maka tak usah heran jika sebuah telur angsa yang biasa dijumpai di pasar-pasar tradisional ketika sudah diukir oleh tangan-tangan terampil akan bernilai jutaan rupiah.

Telur ukir tersebut diciptakan oleh seorang pensiunan perusahaan swasta yang bergerak di bidang jasa konstruksi, Andi Wibisono. Ia tertarik menekuni kerajinan telur ukir lantaran pasca pensiun dirinya membutuhkan kegiatan pengisi waktu luang. “Setelah pensiun saya berpikir kira-kira kegiatan apa yang bisa saya lakukan dan juga menghasilkan. Sepertinya kerajinan telur ukir ini cocok bagi saya meski awalnya mesti bersusah payah belajar teknik mengukir telur”, kenang Andi.

Andi menguasai teknik mengukir telur secara otodidak tanpa bantuan orang lain. Ia seorang yang memiliki bakat seni, jadi tidak heran dirinya mampu menciptakan hasil karya dalam kurun waktu yang terbilang singkat. Singkat cerita, sepanjang tahun 2008 meski dalam tahap belajar setidaknya ia sudah menghasilkan 30 karya telur ukir yang bernilai jutaan rupiah.

Telur-telur tersebut ia lepas ke pasaran saat ia mengikuti pameran kerajinan berskala nasional. Tak disangka peminatnya cukup banyak dan Andi pun dengan percaya diri memasarkannya lewat media internet. Namun Andi juga belum berniat memasarkan kerajinan telur ukirnya lewat galeri-galeri. “Saat ini saya hanya memasarkan kecil-kecilan saja sebab saya belum berani untuk jual titip di galeri-galeri. Pasalnya dengan harga yang demikian mahal otomatis saya harus menyasar galeri kerajinan yang segmen pasarnya menengah keatas. Namun kendalanya fee yang ditetapkan dari galeri juga mahal, yang berimbas pada harga jual telur nanti”, terang pria kelahiran 21 Februari 1952 ini.

Andi menilai meski telur ukir ini adalah barang seni dimana kolektornya akan mengeluarkan biaya berapapun namun ia tidak ingin pembelinya mendapatkan harga yang kurang sesuai. Karena itu ia hanya memajang seluruh hasil karyanya di kediamannya yang terletak di kawasan pasar minggu.
Ia mengaku cukup beruntung memulai bisnis telur ukir ketika belum banyak orang yang menekuninya. Tak mengherankan jika ia kemudian menyandang predikat sebagai pionir seniman telur angsa ukir. Memang hingga saat ini hanya Andi seorang yang terbilang mahir dengan teknik mengukir telur. Ia tak menampik ketika banyak orang yang akhirnya ikut menyenangi dan mempelajari teknik mengukir telur. Dikatakannya meski proses pembuatannya sangat sulit Andi percaya jika dilakukan dengan tekun semua orang pasti bisa.

Namun satu hal yang ia tegaskan untuk mempelajarinya memang dibutuhkan bakat tersendiri jika tidak akan memakan banyak waktu hingga bisa mahir. “Untuk membuat telur ukir sangat menyita waktu. Maka jika serius menekuni usaha ini tidak bisa dilakukan sebagai bisnis sampingan. Jadi hanya orang-orang punya banyak waktu luang saja yang bisa menjalankannya”, papar Andi.
Memang benar untuk membuat satu buah telur ukir cantik tidak tercipta dalam waktu sekejap. Andi membutuhkan konsentrasi, ide dan mood yang muncul bersamaan saat membuat telur ukir. “Sulit dipastikan satu butir telur selesai berapa jam atau hari sebab ketika saya jenuh dengan satu motif saya akan pindah sejenak mengerjakan motif lain begitu seterusnya hingga semua motif selesai diukir”, jelas alumnus Fakultas Arsitektur Landskap Trisakti.

Prosesnya pun tidak sesederhana yang dibayangkan. Telur yang siap ukir ternyata telah menjalani proses pengeluaran isi telur. Mulanya Andi mengosongkan isi telur lewat lubang kecil di bawah telur dengan diameter kurang lebih 2 mm. Dengan bantuan kompresor cairan telur yang kental perlahan-lahan keluar. Setelah itu Andi mesti membersihkan lapisan tipis di bagian dalam telur yang biasanya membuat telur mengeluarkan aroma amis. Baru ia memoleskan cat dinding di bagian dalam telur agar telur sedikit lebih kuat dan tidak mudah pecah saat diukir. Telur pun siap diukir setelah Andi menggambarkan pola di permukaannya.

Tahap terakhir setelah diukir dengan bantuan alat bor bermata mini telur akan diamplas agar lebih mengkilap. Hasilnya telur angsa yang ia beli dengan harga Rp25 ribu perbutir setelah terukir desain menarik harga jualnya menjadi 20 kali lipat lebih yakni sekitar Rp500 ribu sampai Rp1,5 juta. Harga tersebut bisa lebih tinggi lagi ketika Andi menjualnya keluar negeri.

Untuk desain Andi mengakui masih mencontek motif-motif batik yang memang banyak disukai turis-turis asal Jepang dan pembeli dari Australia. Namun tak sedikit motif yang ia ciptakan sendiri seperti huruf Arab, gambar kepala hewan, atau bahkan sketsa wajah tokoh terkenal yang sedang giatnya ia kerjakan. “Awalnya saya membuat sketsa wajah Obama dan ternyata laku. Kemudian saya mencoba membuat sketsa wajah presiden Indonesia dari awal hingga sekarang. Kedepannya saya akan membuat sketsa wajah tokoh dunia untuk dijual di pasar internasional”,ujar Andi.
Khusus motif sketsa wajah, proses pengerjaannya tidak terlampau lama. Setelah pola sudah tergambar di permukaan telur, maka hanya membutuhkan waktu kurang lebih tiga jam untuk pengukirannya. Selanjutnya tinggal proses finishing, telur ukir pun akan terlihat lebih apik setelah dikemas dengan bingkai kaca.
Blogger
Disqus