Ternak Ayam Kampung: Omsetnya Sama Sekali Tidak Kampungan

Berbicara tentang ternak ayam kampung cenderung mengacu kepada ayam umbaran. Padahal, ayam yang satu ini juga dapat diternakkan laiknya broiler. Bahkan, dengan perawatan yang benar dan bagus, ayam kampung akan menghasilkan pemasukan yang sangat menakjubkan. Nah, bagaimana itu caranya?

 Menurut Anda, mana yang lebih lezat rasanya: ayam ras atau ayam bukan ras (buras)? Jika Anda mengatakan bahwa ayam buras lebih lezat ketimbang ayam ras, jawaban Anda sudah betul. Tapi, benarkah ayam yang selama ini Anda konsumsi merupakan ayam buras atau yang lebih dikenal dengan istilah ayam kampung?

Pertanyaan ini mengacu pada fakta bahwa ayam konsumsi terbagi menjadi ayam ras dan ayam buras. Sementara ayam ras itu sendiri terbagi menjadi ayam pedaging (broiler) dan ayam petelur (layer). Dalam dunia ayam pedaging, baik jantan maupun betina, dimanfaatkan dagingnya. Sedangkan dalam dunia ayam petelur, karena yang dimanfaatkan hanya telurnya, maka yang berperan tentu saja ayam petelur betina. Dengan demikian, kehadiran ayam petelur jantan tidak diinginkan.

“Di luar negeri, ayam petelur jantan akan dipotong, lalu dagingnya digiling, dan selanjutnya digunakan sebagai makanan ayam karena kandungan proteinnya tinggi. Jadi, ibaratnya ayam makan ayam. Di Indonesia, segelintir peternak ayam yang nakal, memotongnya seperti ayam kampung (karkas yang menyertakan kepala, leher, dan ceker, red.) dan menjualnya dengan harga ayam kampung,” jelas Christopher Emille Jayanata.

Kehadiran ayam kampung abal-abal ini, Emille menambahkan, tentu saja merugikan konsumen. Sebab, harganya lebih mahal ketimbang broiler, belum tentu sehat, dan rasanya tidak enak. “Untuk membedakannya, lihatlah kakinya di mana ayam kampung asli memiliki kaki yang jenjang dan paha yang montok. Sedangkan ayam kampung abal-abal memiliki kaki yang butek (pendek bulat). Tapi, perbedaan ini akan sulit dilihat kalau konsumen tidak terbiasa mengamati mana ayam kampung dan mana broiler. Apalagi, jika sudah dalam kondisi dipotong,” ujar Direktur Utama PT Pronic Indonesia ini.

Kenakalan yang dilakukan segelintir peternak tersebut, di samping memanfaatkan kehadiran layer jantan yang tercampakkan, juga karena sejak beberapa tahun lalu permintaan akan ayam kampung semakin lama semakin banyak. Mengapa? Dan, apa itu ayam kampung? Tentu, itu pertanyaan yang selanjutnya muncul.

Seperti telah dinyatakan di atas bahwa selain ayam ras, juga ada ayam buras. Dalam dunia ayam buras, ayam kampung atau yang sering juga disebut ayam lokal hanyalah salah satu bagiannya. Tapi, sebenarnya, ayam lokal berbeda dengan ayam kampung di mana ayam lokal cenderung mengacu kepada ayam suatu daerah di Indonesia, seperti Ayam Cemani, Ayam Pelung, dan sebagainya. Sementara ayam kampung merupakan ayam-ayam lokal yang telah mengalami domestikasi. Berkaitan dengan itu, dilihat dari spec performance-nya, ayam kampung mempunyai corak dan warna bulu yang lebih beragam, dengan kaki jenjang dan tubuh langsing bak pragawati.

Ayam kampung dapat dipelihara baik secara ekstensif maupun intensif. Dalam cara pemeliharaan secara ekstensif, ayam kampung tersebut mulai dari DOC (Day Old Chicken) sudah dilepaskan begitu saja, sehingga mereka pun mencari makan dan beranakpinak sendiri. Imbasnya, kesehatan dan pertumbuhan mereka tidak terkontrol, tapi juga tidak ada biaya produksi yang harus dikeluarkan. Masyarakat menyebut cara ini dengan umbaran. Dalam perjalanannya, jika berbicara tentang ayam kampung, maka yang terlintas dalam benak adalah ayam umbaran.

Padahal, ayam kampung juga dapat dipelihara secara intesif/dikandangkan seperti ayam ras. Untuk itu, gunakanlah bibit dari breeding yang tepercaya atau telah melalui suatu riset. Sehingga, secara genetik, sudah cukup teruji dan hasilnya pun terjamin. Feeding juga harus dikontrol, termasuk pemberian vitamin, obat-obatan, dan protein dengan harapan nantinya performance-nya tumbuh dengan cepat.

Adapun bibit yang dimaksud berkorelasi positif dengan berat telur (40 gr−50 gr) atau berat DOC (30 gr−35 gr). “Untuk bibit berupa telur, sebelum dimasukkan ke dalam mesin tetas, beratnya dikontrol lagi agar nantinya dihasilkan DOC dengan berat seragam. Dari DOC dengan berat seragam itu, diharapkan, pertumbuhan mereka akan seragam pula,” ungkap Bambang Krista, peternak ayam kampung di kawasan Cileungsi. Sekadar informasi, digunakannya mesin tetas hanya demi efisiensi bisnis.

Telur ayam kampung, tentu saja dihasilkan oleh ayam kampung betina di mana secara alamiah ia sudah mampu bertelur untuk pertama kalinya pada umur 18 minggu atau 4,5 bulan. Tapi, ia belum dapat dijadikan indukan jika diternakkan. Karena, belum dewasa kelamin. Ayam kampung betina matang kelamin/matang kawin pada umur enam bulan, sedangkan ayam kampung jantan pada umur delapan bulan. Di sisi lain, telur-telur yang dihasilkan oleh ayam kampung betina yang belum dewasa kelamin juga terlalu kecil ukuran dan bobotnya. Sehingga, bila nekad ditetaskan, pertumbuhannya akan lambat.

Ayam kampung betina akan terus bertelur hingga berumur 85−90 minggu dan setelah tidak produktif lagi, ia akan beralih fungsi menjadi ayam konsumsi. Sementara si jantan akan menjadi pejantan sampai berumur tiga tahun dan sesudahnya juga akan berakhir di meja makan.
“Dalam sebuah usaha peternakan, yang dibutuhkan dari ayam jantan hanyalah spermanya. Untuk memperoleh sperma yang bagus, maka harus mempunyai ayam jantan yang bagus. Jadi, jangan heran jika di peternakan kami, para pejantan tersebut seminggu sekali mengonsumsi telur, madu, dan toge, serta minum suplemen untuk pria dewasa. Pertimbangan kami, sebagai sesama makhluk hidup, agar menjadi pejantan tangguh maka kita harus menjaga stamina dan kesehatan,” kata Bambang, yang yang menamai peternakannya Citra Lestari Farm.

Dan, layaknya perkawinan dalam dunia binatang, ayam kampung jantan juga berpoligami di mana idealnya satu ayam kampung jantan mengawini 5−8 ayam kampung betina. “Tapi, di peternakan kami, satu ayam kampung jantan ‘mengawini’ 40 ayam kampung betina. Mengapa bisa begitu? Karena, kami tidak menggunakan perkawinan alamiah, tapi kawin suntik. Sehingga, lebih efisien baik dalam pemakaian lahan maupun jumlah pejantan. Di sisi lain, hal ini kami lakukan sebab ayam tidak asal kawin, di antara mereka harus ada saling ketertarikan. Dengan demikan, jika perkawinan alamiah yang digunakan, maka tingkat keberhasilannya akan kalah dengan kawin suntik,” kata insinyur peternakan dari Universitas Diponegoro, Semarang, ini.

Dari usaha yang dibangunnya tahun 2008 dengan luas lahan 3 ha di mana 40%-nya digunakan untuk peternakan ini, setiap minggunya Bambang memanen dan memasarkan 40 ribu ekor DOC yang dijual dengan harga Rp5.500,-/ekor ke seluruh Indonesia dan 3−4 ribu butir telur yang disetorkannya ke berbagai supermarket dengan harga Rp1.200,- sampai Rp1.500,- per butir. Selain itu, usaha yang dibangun dengan modal Rp15 juta ini, juga memasok seribu ayam yang sudah dipotong per hari ke berbagai rumah makan ayam goreng ternama di seluruh JABODETABEK. Karkas ayam ini dijualnya dengan harga Rp25 ribu−Rp30 ribu per ekor. “Kami berencana suatu saat nanti bisa menjual karkas ini ke Malaysia atau Singapura,” ucap kelahiran Solo, 5 Oktober 1963 ini.

Namun, Bambang yang setiap bulannya membukukan omset hampir Rp2 milyar ini, tidak ingin menikmati keberhasilan usahanya sendirian. Ia menyediakan pelatihan bagi mereka yang ingin beternak ayam kampung, tetapi belum memiliki gambaran sama sekali. Untuk itu, peserta cukup menyetor Rp850 ribu untuk pelatihan selama dua hari. “Bagi mereka yang ingin beternak ayam kampung, saya sarankan untuk memulainya dari ayam pedaging. Karena, modal yang ditanamkan bisa dilakukan secara bertahap. Sebagai kalkulasi, untuk mencetak ayam kampung dari DOC hingga siap panen cuma dibutuhkan modal Rp20 ribu/ekor!” pungkasnya. Komoditinya memang ayam kampung, tapi hasilnya tidak kampungan, bukan?
Blogger
Disqus